Fisiologi larva dan warna wadah
Larva yang baru menetas bersifat transparan, gerakannya
lamban, dan masih membawa kuning telur sebagai cadangan makanannya. Butir
minyak terletak dibagian tengah bawah. Larva kehabisan cadangan makanan setelah
berumur 4-5 hari yaitu pada fase heatchilings pada fase ini terjadi
perubahan pola pakan yang semula berasal dari dalam tubuh (endogenous)
beralih ke sumber makanan yang berasal dari luar tubuh (exogenous),
pada peralihan fase antara heatchilings dan larva banyak terjadi
kematian. (Kohno., et al. 1985 dalam
Kadarwati 1997) menganalisis sebab-sebab kematian tersebut dengan menghitung
jarak antara larva mulai membuka mulut sampai larva mulai makan. Dari hasil
analisa tersebut didapatkan bahwa penyerapan butir minyak terjadi antara 92 -
94 jam atau sekitar 4 hari setelah telur dibuahi. Penyerapan kuning telur
terjadi antara rentan waktu 71 - 87 jam atau sekitar 3 hari setelah telur
menetas, dan jarak waktu antara larva mulai membuka mulut sampai larva mampu
mengkonsumsi pakan adalah 69-92 jam setelah telur menetas.
Tingkat mortalitas pada umur 5 hari terjadi karena adanya
keadaan dimana larva mampu makan hanya pada saat kondisi dimana terdapat jumlah
pakan yang optimal, sedangkan ada juga yang tidak mampu makan walaupun terdapat
jumlah pakan yang optimal. Hal ini dapat terjadi dikarenakan kesalahan
menentukan jadual keterlambatan dalam pemberian pakan, atau dapat juga
dikarenakan rendahnya kualitas mutu pakan yang diberikan. (Kadarwati, 1997).
Pada hari ke 3 - 8 setelah telur menetas perkembangan organ
dalam semakin sempurna, gelembung udara, kantung empedu dan calon sirip
punggung terbentuk pada hari ke-7. Sirip punggung dan sirip dada pada larva
berumur 5 hari belum tumbuh namun organ dalam seperti jantung, lambung dan usus
sudah mulai berkembang. Pada larva umur 10 hari pigmentasi mata sudah mulai
sempurna, sirip punggung dan dada mulai berkembang. (Kohno et al, 1985 dalam Kadarwati, 1997 ).
Pada larva umur 15 hari sirip punggung dan dada berkembang
dan pada umur 20 hari tumbuh duri halus yang semakin kokoh. Pada larva umur 25 hari
perkembangan sirip punggung mencapai setengah panjang tubuh, diduga berfungsi
sebagai alat keseimbangan dalam bergerak mencari makan dan jika terkena arus
larva belum cukup mampu untuk menghindar. Perkembangan identik dengan
pertumbuhan yaitu keluarnya satu seri proses tingkah laku dan proses fisiologis
yang dimulai dari konsumsi pakan dan diakhiri dengan pengendapan sisa substansi
larva (Kadarwati, 1997).
Pemeliharaan larva juga merupakan faktor yang dapat
mempengaruhi penyediaan kualitas dan kuantitas benih yang baik. Pemeliharaan
larva sangat menentukan keberhasilan kegiatan pembenihan ikan. Hal ini
disebabkan larva merupakan salah satu stadia paling kritis dalam siklus hidup
ikan (Effendi 2004). Tahap pemeliharaan larva merupakan tahap yang sulit karena
kematian sering terjadi diakibatkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan larva yaitu kuning telur serta kualitas air seperti
suhu, pH, oksigen, salinitas dan cahaya (Kadarwati, 1997). Cahaya tersebut
dipengaruhi oleh warna wadah sehingga cahaya menyesuaikan warna wadah
disekelilingnya.
Cahaya mempengaruhi ikan pada waktu
memijah dan pada larva. Jumlah cahaya yang tersedia dapat mempengaruhi waktu
kematangan ikan. Jumlah cahaya juga mempengaruhi daya hidup larva ikan secara
tidak langsung, hal ini diduga berkaitan dengan jumlah produksi organik yang
sangat dipengaruhi oleh ketersediaan cahaya. Cahaya juga mempengaruhi tingkah
laku larva. Penangkapan beberapa larva ikan pelagis ditemukan lebih banyak pada
malam hari dibandingkan pada siang hari. (Imampoor, 2011).
Menurut Fitri (2009) tingkah laku ikan
serta berbagai faktor-faktor yang berkaitannya dapat diketahui dan dipahami,
maka akan membuka jalan untuk mengetahui cara-cara yang dapat meningkatkan
efisiensi dan efektifitas (wadah pemeliharaan ikan), bahkan dapat memacu untuk
memodifikasi suatu warna wadah yang lebih sesuai. Sebab fisiologi dan histologi
organ penglihatan terutama dari jumlah dan susunan sel reseptor kon (cone), rod, dan diameter lensa ikan merupakan fenomena yang menarik untuk
dikaji agar dapat mengetahui pola tingkah lakunya, khususnya dalam hal
ketajaman penglihatan dan pembedaan warna wadah, (Fitri, 2009).
Hal tersebut disebabkan mata ikan telah
melalui seleksi alamiah dan evolusi tersebut. Proses evolusi tersebut telah
memaksimalkan kemampuan fotoreseptor pada sistem penglihatan ikan, dimana mata
ikan dapat menyerap puncak panjang gelombang yang berbeda-beda (warna biru,
hijau, kuning, orange), menurut (Fitri, 2009), kondisi ini didukung oleh banyak
pigmen penglihatan pada retina dan kemampun menyerap energi.