Sabtu, 21 Januari 2017

Fisiologi larva dan warna wadah

Fisiologi larva dan warna wadah
Larva yang baru menetas bersifat transparan, gerakannya lamban, dan masih membawa kuning telur sebagai cadangan makanannya. Butir minyak terletak dibagian tengah bawah. Larva kehabisan cadangan makanan setelah berumur 4-5 hari yaitu pada fase heatchilings pada fase ini terjadi perubahan pola pakan yang semula berasal dari dalam tubuh (endogenous) beralih ke sumber makanan yang berasal dari luar tubuh  (exogenous), pada peralihan fase antara heatchilings dan larva banyak terjadi kematian. (Kohno., et al. 1985 dalam Kadarwati 1997) menganalisis sebab-sebab kematian tersebut dengan menghitung jarak antara larva mulai membuka mulut sampai larva mulai makan. Dari hasil analisa tersebut didapatkan bahwa penyerapan butir minyak terjadi antara 92 - 94 jam atau sekitar 4 hari setelah telur dibuahi. Penyerapan kuning telur terjadi antara rentan waktu 71 - 87 jam atau sekitar 3 hari setelah telur menetas, dan jarak waktu antara larva mulai membuka mulut sampai larva mampu mengkonsumsi pakan adalah 69-92 jam setelah telur menetas.
Tingkat mortalitas pada umur 5 hari terjadi karena adanya keadaan dimana larva mampu makan hanya pada saat kondisi dimana terdapat jumlah pakan yang optimal, sedangkan ada juga yang tidak mampu makan walaupun terdapat jumlah pakan yang optimal. Hal ini dapat terjadi dikarenakan kesalahan menentukan jadual keterlambatan dalam pemberian pakan, atau dapat juga dikarenakan rendahnya kualitas mutu pakan yang diberikan. (Kadarwati, 1997).
Pada hari ke 3 - 8 setelah telur menetas perkembangan organ dalam semakin sempurna, gelembung udara, kantung empedu dan calon sirip punggung terbentuk pada hari ke-7. Sirip punggung dan sirip dada pada larva berumur 5 hari belum tumbuh namun organ dalam seperti jantung, lambung dan usus sudah mulai berkembang. Pada larva umur 10 hari pigmentasi mata sudah mulai sempurna, sirip punggung dan dada mulai berkembang. (Kohno et al, 1985 dalam Kadarwati, 1997 ).
Pada larva umur 15 hari sirip punggung dan dada berkembang dan pada umur 20 hari tumbuh duri halus yang semakin kokoh. Pada larva umur 25 hari perkembangan sirip punggung mencapai setengah panjang tubuh, diduga berfungsi sebagai alat keseimbangan dalam bergerak mencari makan dan jika terkena arus larva belum cukup mampu untuk menghindar. Perkembangan identik dengan pertumbuhan yaitu keluarnya satu seri proses tingkah laku dan proses fisiologis yang dimulai dari konsumsi pakan dan diakhiri dengan pengendapan sisa substansi larva (Kadarwati, 1997).
Pemeliharaan larva juga merupakan faktor yang dapat mempengaruhi penyediaan kualitas dan kuantitas benih yang baik. Pemeliharaan larva sangat menentukan keberhasilan kegiatan pembenihan ikan. Hal ini disebabkan larva merupakan salah satu stadia paling kritis dalam siklus hidup ikan (Effendi 2004). Tahap pemeliharaan larva merupakan tahap yang sulit karena kematian sering terjadi diakibatkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan larva yaitu kuning telur serta kualitas air seperti suhu, pH, oksigen, salinitas dan cahaya (Kadarwati, 1997). Cahaya tersebut dipengaruhi oleh warna wadah sehingga cahaya menyesuaikan warna wadah disekelilingnya.
Cahaya mempengaruhi ikan pada waktu memijah dan pada larva. Jumlah cahaya yang tersedia dapat mempengaruhi waktu kematangan ikan. Jumlah cahaya juga mempengaruhi daya hidup larva ikan secara tidak langsung, hal ini diduga berkaitan dengan jumlah produksi organik yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan cahaya. Cahaya juga mempengaruhi tingkah laku larva. Penangkapan beberapa larva ikan pelagis ditemukan lebih banyak pada malam hari dibandingkan pada siang hari. (Imampoor, 2011).
Menurut Fitri (2009) tingkah laku ikan serta berbagai faktor-faktor yang berkaitannya dapat diketahui dan dipahami, maka akan membuka jalan untuk mengetahui cara-cara yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas (wadah pemeliharaan ikan), bahkan dapat memacu untuk memodifikasi suatu warna wadah yang lebih sesuai. Sebab fisiologi dan histologi organ penglihatan terutama dari jumlah dan susunan sel reseptor kon (cone), rod, dan diameter lensa ikan merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji agar dapat mengetahui pola tingkah lakunya, khususnya dalam hal ketajaman penglihatan dan pembedaan warna wadah, (Fitri, 2009).

Hal tersebut disebabkan mata ikan telah melalui seleksi alamiah dan evolusi tersebut. Proses evolusi tersebut telah memaksimalkan kemampuan fotoreseptor pada sistem penglihatan ikan, dimana mata ikan dapat menyerap puncak panjang gelombang yang berbeda-beda (warna biru, hijau, kuning, orange), menurut (Fitri, 2009), kondisi ini didukung oleh banyak pigmen penglihatan pada retina dan kemampun menyerap energi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar