Sabtu, 21 Januari 2017

Kualitas Air

Kualitas Air
Kondisi kualitas air yang buruk dapat menyebabkan stres sampai kematian pada ikan. Pengukuran kualitas air selama pemeliharaan larva seperti pH, suhu, oksigen terlarut, berada pada kisaran yang optimal dan jika mengacu pada ketentuan peraturan tentang kualitas air untuk budidaya ikan, masih memenuhi nilai ambang batas baku mutu, namun yang harus diwaspadai adalah perubahan suhu yang draktis, kerana hal ini dapat memicu stress pada ikan, sehingga laju pertumbuhan metabolisme meningkat (Efendi, 2003). Pemeliharaan ikan diatas suhu 27,5% dapat mencegah terjadinya infeksi penyakit bakteri.
Konsentrasi oksigen terlarut selama pematangan gonad di kolam dengan aliran air berkisar antara 4,9-7,4 mg/l. Kondisi tersebut masih berada pada kondisi optimum untuk pemeliharaan ikan, dimana konsentrasi ikan oksigen terlarut untuk pemeliharaan ikan sebaiknya tidak kurang dari 3 mg/l.
Ikan tumbuh cukup lambat pada kisaran pH antara 5 sampai 6,5 (Boyd, 1990). Kisaran pH yang baik untuk pertumbuhan ikan berdasarkan PP/82/01 adalah antara 6 sampai 9 selama penelitian kisaran nilai pH berkisar antara 6,5.

Pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan

Pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan
Pertumbuhan secara umum adalah perubahan dimensi (panjang, berat, volume, dan ukuran) persatuan waktu baik individu maupun komoditas (Effendi, 2007), adapun faktor yang mempengaruhi dalam pertumbuhan adalah faktor internal yaitu keturunan (genetic), jenis kelamin, parasit dan penyakit. Serta umur dan maturitas  (Moyle and Cech 2004).  Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan baik faktor dari dalam maupun dari luar, faktor dari dalam meliputi keturunan, umur, ketahanan terhadap penyakit dan kemampuan dalam pemanfaatkan pakan, sedangkan faktor dari luar diantaranya suhu, kimia lingkungan air, dan kualitas dan kuantitas pakan yang tersedia (Wibowo et al., 2009). Pertumbuhan akan terjadi bahwa jumlah pakan yang akan dikonsumsi ikan lebih banyak dari pada jumlah yang diperlukan untuk pemeliharaan tubuh dan menggantikan sel-sel yang rusak. 
Kelangsungan hidup suatu populasi ikan merupakan nilai presentase jumlah ikan yang hidup dari jumlah ikan yang ditebar dalam satu wadah selama masa pemeliharaan tertentu (Effendi, 1997). Tingkat kelangsungan hidup merupakan kebalikan dari mortalitas, ikan mengalami mortalitas yang tinggi jika berada dalam kondisi stres, terutama disebabkan kekurangan makanan dan kondisi lingkungan yang kurang baik sehingga mengakibatkan ikan mudah terinfeksi penyakit. Hal ini berlangsung lama akan menyebabkan kematian (Effendi, 2007).

Fisiologi larva dan warna wadah

Fisiologi larva dan warna wadah
Larva yang baru menetas bersifat transparan, gerakannya lamban, dan masih membawa kuning telur sebagai cadangan makanannya. Butir minyak terletak dibagian tengah bawah. Larva kehabisan cadangan makanan setelah berumur 4-5 hari yaitu pada fase heatchilings pada fase ini terjadi perubahan pola pakan yang semula berasal dari dalam tubuh (endogenous) beralih ke sumber makanan yang berasal dari luar tubuh  (exogenous), pada peralihan fase antara heatchilings dan larva banyak terjadi kematian. (Kohno., et al. 1985 dalam Kadarwati 1997) menganalisis sebab-sebab kematian tersebut dengan menghitung jarak antara larva mulai membuka mulut sampai larva mulai makan. Dari hasil analisa tersebut didapatkan bahwa penyerapan butir minyak terjadi antara 92 - 94 jam atau sekitar 4 hari setelah telur dibuahi. Penyerapan kuning telur terjadi antara rentan waktu 71 - 87 jam atau sekitar 3 hari setelah telur menetas, dan jarak waktu antara larva mulai membuka mulut sampai larva mampu mengkonsumsi pakan adalah 69-92 jam setelah telur menetas.
Tingkat mortalitas pada umur 5 hari terjadi karena adanya keadaan dimana larva mampu makan hanya pada saat kondisi dimana terdapat jumlah pakan yang optimal, sedangkan ada juga yang tidak mampu makan walaupun terdapat jumlah pakan yang optimal. Hal ini dapat terjadi dikarenakan kesalahan menentukan jadual keterlambatan dalam pemberian pakan, atau dapat juga dikarenakan rendahnya kualitas mutu pakan yang diberikan. (Kadarwati, 1997).
Pada hari ke 3 - 8 setelah telur menetas perkembangan organ dalam semakin sempurna, gelembung udara, kantung empedu dan calon sirip punggung terbentuk pada hari ke-7. Sirip punggung dan sirip dada pada larva berumur 5 hari belum tumbuh namun organ dalam seperti jantung, lambung dan usus sudah mulai berkembang. Pada larva umur 10 hari pigmentasi mata sudah mulai sempurna, sirip punggung dan dada mulai berkembang. (Kohno et al, 1985 dalam Kadarwati, 1997 ).
Pada larva umur 15 hari sirip punggung dan dada berkembang dan pada umur 20 hari tumbuh duri halus yang semakin kokoh. Pada larva umur 25 hari perkembangan sirip punggung mencapai setengah panjang tubuh, diduga berfungsi sebagai alat keseimbangan dalam bergerak mencari makan dan jika terkena arus larva belum cukup mampu untuk menghindar. Perkembangan identik dengan pertumbuhan yaitu keluarnya satu seri proses tingkah laku dan proses fisiologis yang dimulai dari konsumsi pakan dan diakhiri dengan pengendapan sisa substansi larva (Kadarwati, 1997).
Pemeliharaan larva juga merupakan faktor yang dapat mempengaruhi penyediaan kualitas dan kuantitas benih yang baik. Pemeliharaan larva sangat menentukan keberhasilan kegiatan pembenihan ikan. Hal ini disebabkan larva merupakan salah satu stadia paling kritis dalam siklus hidup ikan (Effendi 2004). Tahap pemeliharaan larva merupakan tahap yang sulit karena kematian sering terjadi diakibatkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan larva yaitu kuning telur serta kualitas air seperti suhu, pH, oksigen, salinitas dan cahaya (Kadarwati, 1997). Cahaya tersebut dipengaruhi oleh warna wadah sehingga cahaya menyesuaikan warna wadah disekelilingnya.
Cahaya mempengaruhi ikan pada waktu memijah dan pada larva. Jumlah cahaya yang tersedia dapat mempengaruhi waktu kematangan ikan. Jumlah cahaya juga mempengaruhi daya hidup larva ikan secara tidak langsung, hal ini diduga berkaitan dengan jumlah produksi organik yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan cahaya. Cahaya juga mempengaruhi tingkah laku larva. Penangkapan beberapa larva ikan pelagis ditemukan lebih banyak pada malam hari dibandingkan pada siang hari. (Imampoor, 2011).
Menurut Fitri (2009) tingkah laku ikan serta berbagai faktor-faktor yang berkaitannya dapat diketahui dan dipahami, maka akan membuka jalan untuk mengetahui cara-cara yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas (wadah pemeliharaan ikan), bahkan dapat memacu untuk memodifikasi suatu warna wadah yang lebih sesuai. Sebab fisiologi dan histologi organ penglihatan terutama dari jumlah dan susunan sel reseptor kon (cone), rod, dan diameter lensa ikan merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji agar dapat mengetahui pola tingkah lakunya, khususnya dalam hal ketajaman penglihatan dan pembedaan warna wadah, (Fitri, 2009).

Hal tersebut disebabkan mata ikan telah melalui seleksi alamiah dan evolusi tersebut. Proses evolusi tersebut telah memaksimalkan kemampuan fotoreseptor pada sistem penglihatan ikan, dimana mata ikan dapat menyerap puncak panjang gelombang yang berbeda-beda (warna biru, hijau, kuning, orange), menurut (Fitri, 2009), kondisi ini didukung oleh banyak pigmen penglihatan pada retina dan kemampun menyerap energi.

Reproduksi

Reproduksi

Siklus reproduksi ikan berhubungan erat dengan perkembangan gonad, terutama ikan betina. Secara umum tahap-tahap perkembangan gonad ikan jantan adalah spermatogonia, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatoid, metamorphose dan spermatozoa. Volume gonad ikan jantan bisa mencapai 5% dari  bobot total tubuhnya, sedangkan tahap perkembangan ikan betina meliputi ooginia, oosit primer, oosit sekunder dan ovum atau telur, karena siklus reproduksi terkait erat dengan perkembangan gonad ikan betina, maka pembahasan tentang siklus reproduksi lebih ditekankan pada pematangan gonad ikan betina dan faktor-faktor yang mempengaruhi (Effendi, 1997).

Habitat dan Kebiasaan Hidup

Habitat dan Kebiasaan Hidup
Di Indonesia ikan ini tersebar di sungai-sungai besar di pulau Sumatra dan kalimantan (Djuhanda,1981). Dari identifikasi yang dilakukan terhadap jenis-jenis ikan air tawar di sungai Batang Hari, Jambi, di jumpai 162 jenis ikan yang termasuk dalam 14 ordo, 30 famili dan 73 genus. Ordo astarriophysi mendominasi jenis-jenis ikan yang ditemukan dan ikan tengadak juga termaksud jenis utama yang bernilai ekonomis penting (Nurdawati, 1994). Ikan tengadak juga di jumpai di bagian hulu sungai Musi dengan jumlah yang sedikit, bagian tengah dan rawa-rawa sekitar sungai dengan jumlah yang tidak terlalu banyak menurut Samuel, et al. (2012). Luar Indonesia, ikan tengadak dapat di temukan di malaysia, Thailand, Vietnam, dan Myanmar (Djuhanda, 1981).

Ikan Tengadak sudah dibudidayakan masyarakat di berbagai daerah di Sumatra dan Kalimantan, meski belum berkembang seperti ikan nila dan ikan mas. Jenis ikan ini di pelihara petani dalam kolam atau keramba dengan memanfaatkan benih dari alam. Di Kalimantan Timur, ikan Tengadak ukuran 50 g/ekor yang di tebar  dalam hapa yang bervolume 10 m3 sebanyak 1200 ekor setelah di pelihara 1 tahun menggunakan pakan komersial (kadar protein 25-28%) dapat dihasilkan ikan sebanyak 684 kg (mortalitas 5%) dan nilai konversi pakan 3,25 (Gaffar dan Nasution, 1990).

Klasifikasi Ikan Tengadak

Klasifikasi dan Morfologi
Klasifikasi ikan Tengadak (Berbonymus scwanenfeldii) Kalimantan Barat menurut Nelson (1994) adalah sebagai berikut :
Fhylum                  : Chordata
Sub Fhylum           : Vertebrata
Class                     : Pisces
Sub class               : Neopterygii
Ordo                      : Cypiniformes
Family                   : Cyprinidae
Genus                    : Barbonymus 
Species                  : Berbonymus scwanenfeldii  
(Sumber : Hidayatullah. 2014)


Ikan tengadak memiliki kepala yang kecil, tubuh pipih dan badan tinggi seperti ikan tawes, sisik kecil-kecil, warna tubuh seperti perak, dengan punggung yang lebih gelap atau abu-abu kecoklatan dan perut putih mengkilat (Gaffar dan Nasution, 1990). Pada ikan muda, ujung sirip warna merah menguning, tetapi pada ikan dewasa seluruh siripnya berwarna merah, sirip punggung di dukung oleh 3 jari-jari keras dan 8-9 jari-jari lunak, sirip dubur didukung oleh 3 jari-jari keras dan lima jari-jari lunak. Sirip perut mempunyai 2 jari keras dan 8 jari-jari lunak. Sirip dada mempunyai 1 jari-jari sirip keras dan 14-15 jari-jari lunak.
.